Header Ads

ads header

Benang Merah Antara Khittah Pelajar dan Fenomena TikTok

Sumber Foto: ipnuippnujamannow

Kembali ke khittah apakah menakutkan? Asumsi awal dan sampai hari ini, kembalinya IPNU dan IPPNU ke ranah pelajar masih menjadi persoalan. Hal ini ditandai dengan kenyatan bahwa organisasi seakan mengalami stagnan, sulit dibedakan identitasnya ketika akronim putera menjadi pelajar. Kegiatan seperti kehilangan ruh, target masih sebatas menggugurkan program kerja semata.

Harapan masa depan masih berorientasi mampu mengadakan kegiatan, belum menyentuh asas nilai, out put apa yang didapat secara keseluruhan. Adakah kegiatan yang dilaksanakan benar-benar terasa bermanfaat?

Tafsir Perjuangan

Bagi IPNU, perjuangan yang dimaksud tidaklah musti sama sebagaimana nahdlatul ulama' lillaahi i'kalimatillah, IPNU harusnya berpandangan belajar, mengkaji, meneliti narasi agama yang universal, dalam hal ini belajar berarti berpikir dengan sudut pandang keilmuan. Al Ghozali menerangkan, dikotomi ini dengan ilmu fardhu 'ain dan ilmu fardhu kifayah, bukan ilmu agama dan ilmu umum sebagaimana lazimnya orang mengatakan.

Diskursus sederhana ini ternyata menyumbangkan wacana yang efeknya cukup dahsyat. Belajar tentang ilmu eksakta menjadi di belakang dikarenakan bukan bagian kewajiban sehingga mereka malas, tidak serius dan menganggap bukan hal penting. Perjuangan dengan makna belajar sungguh-sungguh adalah sesuatu yang perlu diwujudkan. Pemikiran berbaliknya, jika kita tidak bersungguh-sungguh berarti kita tidak berjuang.

Sugesti Perangkat

Secara organisasi semangat tersebut bisa di bangun secara kebersamaan dalam rangka sebagai motifasi,fastabiqul khoirot sesama pelajar dalam menghadapi atau menyelesaikan persoalan bersama. Membangun dinamika pelajar yang sehat, dengan semangat menjunjung tinggi keilmuan, bukan pelajar yang menghabiskan waktu tanpa bekas yang berarti.

Ketakutan Khittah

Bagi pimpinan dengan balik ke khittah, IPNU akan susah cari anggota, kurang peminat atau bahkan tidak laku. Namun andaikan kita berpikir jernih, justru kebaikan dan sambutan yang hangat buat calon-calon anggota sudah menanti.

Persoalan lebih lanjut, apakah kita bisa menangkap peluang itu dan mempersiapkan kegiatan atau program yang senyawa? Jika tidak match dengan target sasaran, ya, tidak usah berharap banyak.

Ritme

Ritme program, kegiatan jika berbasis pelajar tentunya tidak sama dengan perangkat putera. Kegiatan yang berbasis putera meliki ciri gerakan yang cenderung heroik di masyarakat. Sedangkan pelajar mempunyai identifikasi buku dan pena.

Ending menarik simpati bagi khalayak umum atau tidak, sebenarnya akronim pelajar belum tentu ketinggalan. Kegiatan yang sifatnya keterpelajaran bisa di desain menarik juga, apalagi sekarang media sosial lagi naik daun.

Aplikasi media sosial sangat menguntungkan ranah keterpelajaran. Taruhlah cantoh, belajar kelompok, walau ada 10 orang dalam satu kelompok sudah bisa diuploud di media.

Tik-tok

Sekarang lagi booming, dilakukan oleh berapa orang dalam satu tampilan. Ini bisa menjadi contoh bahwa kegiatan itu tidak musti melibatkan orang banyak, kalau tidak banyak tidak asyiik.

TikTok kini sudah menjadi salah satu aplikasi media sosial raksasa di dunia, menyaingi Facebook, Twitter dan Instagram. Aplikasi ini telah mengklaim memiliki 625 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

Tik-tok, bukan bermaksud untuk sponsor, tetapi memandang bentuk kegiatan perorangan atau 3 orang, dengan semangat dan keyakinan ternyata ngetren juga. Padahal kegiatan seperti itu kemarin hal yang tabu.

Maksud penulis, jika methodologi tersebut digubah study klub dengan jumlah banyak, bukankah bisa mengubah haluan, yang kita perlukan bentuk Study Club dan cara penyajian di media gengster pelajar.

Mengisi memory memang membituhkan waktu berkepanjangan. Penulis memprediksi targed sasaran adalah pelajar yang masih duduk di bangku menengah, waktu 5 atau 6 tahun, insya Alloh mulai ada titik terang. Menuju bangku kuliah, pelajar sudah matang dengan meniti disiplin ilmu dan memory individu sudah dalam tahap lumayan.

Program Keoarganisasian

Rencana strategis tersebut bukan berarti program lain tidak perlu. Kegiatan lain sebagai aktualisasi kreatifitas atau jenjang program pengkaderan tetap dipertahankan. Kita hanya mengurangi bentuk kegiatan yang menguras energi, logistik besar dan hasil yang enggak signifikan bagi pelajar.

Perangkat Struktural

Logika terbentuknya struktural formal di lembaga tidak harus kita kejar. Adanya bio gen yang bisa membuktikan kualitas diri adalah cara kerja covid, lambat laun dan pasti perangkat formal dengan sendirinya akan terbentuk.

Pendampingan

Setelah terbentuk Study Club, memerlukan pendampingan yang berkelanjutan. Pendamping aktif bisa dilakukan oleh pimpinan aktif, kemudian di-back up  dengan alumni yang ahli di bidangnya dan pendamping profesional disiplin keilmuan bisa meminta ke Pergunu untuk konsultan utama dengan merekomendasikan guru ahli di bidang matapelajaran yang diperlukan.[*]


Aceh, 12 April 2020

Penulis : Samsul Ma'arif alias Polo (Alumni IPNU Anak Cabang Ngronggot)
Editor  : Badrus Sholeh 

No comments

Powered by Blogger.